Ada kesalahan di dalam gadget ini

JUDUL : PERKEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK BAGI PETANI INDONESIA

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada tahun 1950-an, pola pertanian di Indonesia masih bersifat tradisional, bahan kimia yang digunakan tidak terlalu banyak, serta belum muncul masalah polusi kimia. Pertanian tradisional terfokus pada basis produksi dan konsumsi rumah tangga. Tradisi ini berhubungan dengan lingkungan alam. Pola pertanian seperti itu telah terbukti dapat berjalan baik pada tingkat rumah tangga dalam jangka waktu yang cukup lama.

Kebutuhan produksi pangan yang meningkat secara cepat akibat pertambahan penduduk, serta pertumbuhan sektor industri yang cepat mendorong munculnya sistem pertanian modern. Ciri-ciri pertanian modern adalah ketergantungan pada pemakaian pupuk anorganik dan bahan kimia yang tinggi untuk pengendalian hama dan gulma. Pertanian modern ini telah menyebabkan kemerosotan sifat-sifat tanah, percepatan erosi tanah, penurunan kualitas tanah dan kontaminasi air bawah tanah (Hardy Benry S). Beberapa negara industri telah sadar akibat dari hal tersebut dan memperkenalkan pertanian organik untuk menggantikan pertanian yang tergantung pada bahan kimia.

Pertanian berkelanjutan merupakan tahap akhir pengembangan dari pertanian tradisional, dan pertanian modern. Pertanian berkelanjutan ini merupakan sistem pertanian yang dapat berlanjut yang tidak manyebabkan kepunahan ataupun kemunduran pada sistem pertanian. Dari beberapa metode pertanian, pertanian dengan metode organik merupakan pola pertanian yang paling tepat guna menuju ke tahap pertanian berkelanjutan.

Pertanian organik telah menjadi industri yang berkembang di seluruh dunia baik negara-negara beriklim tropis maupun sedang. Dengan pertanian organik, petani memperoleh manfaat keunggulan yang banyak bagi kesuburan tanah maupun hasil dari pertanian itu sendiri. Pertanian organik akan sangat menguntungkan karena meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap gaya hidup sehat dan gerakan kembali ke alam. Apabila diperhatikan, keuntungan ekonomi yang diperoleh dari produksi pangan organik akan cukup besar, terutama karena pasarnya sangat luas di luar negeri.

Teknologi untuk pertanian organik telah dikenal selama beberapa tahun terakhir. Pemakaian teknologi ini dapat memberi keuntungan ekonomi dan meningkatkan kesuburan tanah. Namun demikian, pertanian organik ini belum dapat berkembang secara baik. Hal ini disebabkan para petani pada umumnya sudah terbiasa memproduksi pangan dengan pemberian pupuk kimia serta pestisida secara berlebih-lebihan.

Pengambilan judul "Perkembangan Pertanian Organik Bagi Petani Indonesia” dikarenakan saat ini seperti yang kita tahu Indonesia masih tergolong sebagai negara terbelakang dalam pengembangan produk pangan organik, sementara peluang pasar produk pertanian organik cukup besar, untuk ekspor maupun memenuhi permintaan konsumen yang berada di kota-kota besar dan masyarakat kelas menengah ke atas yang jumlahnya terus bertambah. Secara umum, permintaan produk pangan organik akan terus meningkat sejalan dengan peningkatan daya beli masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengkajian dan pemahaman tentang pertanian organik sehingga dapat memberikan informasi kepada petani serta khalayak umum.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian pertanian organik secara umum?

2. Bagaimana peranan pertanian organik dalam pembangunan pertanian berkelanjutan?

3. Bagaimana perkembangan pertanian organik oleh petani Indonesia?

4. Apakah kendala dalam pengembangan pertanian organik?

5. Bagaimana peluang penerapan pertanian organik di Indonesia?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui pengertian pertanian organik secara umum.

2. Memahami peranan pertanian organik dalam pembangunan pertanian berkelanjutan sehingga dapat di manfaatkan petani secara luas.

3. Mengetahui perkembangan pertanian organik oleh petani Indonesia.

4. Mengetahui kendala dalam pengembangan pertanian organik.

5. Mengetahui peluang penerapan pertanian organik di Indonesia.

II. PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Pertanian organik Secara Umum

2.1.1 Pengertian Pertanian organik

· Merupakan sistem pertanian yang bertujuan untuk tetap menjaga keselarasan (harmoni) dengan sistem alami, dengan memanfaatkan dan mengembangkan semaksimal mungkin proses-proses alami dalam pengelolaan usaha tani (Kasumbogo Untung, 1997).

· Suatu sistem pertanian yang tidak menggunakan bahan kimia buatan; mewujudkan sikap dan perilaku hidup yang menghargai alam; dan berkeyakinan bahwa kehidupan adalah anugerah Tuhan yang harus dilestarikan (Joko Prayogo dkk., 1999).

Dari beberapa pendapat dapat di dimpulakn pertanian organik merupakan sistem produksi pertanian yang menghindari penggunaan pupuk buatan, pestisida dan hasil rekayasa genetik, mengurangi pencemaran udara, tanah, dan air. Di sisi lain, pertanian organik meningkatkan kesehatan dan produktivitas di antara flora, fauna dan manusia. Penggunaan masukan di luar pertanian yang menyebabkan kerusakan sumber daya alam tidak dapat dikatakan sebagai pertanian organik. Sebaliknya, sistem pertanian yang tidak menggunakan masukan dari luar, namun mengikuti aturan pertanian organik dapat masuk dalam kelompok pertanian organik, meskipun agro-ekosistemnya tidak termasuk pertanian organik.

2.1.2 Prinsip-Prinsip Pertanian Organik

Dasar konseps pengelolaan pertanian organik adalah bahan organik, biologis dan ekologi pertanian. Dengan konsep ini, maka yang dimaksud dengan pertanian organik adalah pertanian yang bebas bahan kimia.

Prinsip-prinsip pertanian organik sebagaimana ditetapkan oleh International Federation of Organic Agriculture Movement (Organic Farming, 1990) adalah sebagai berikut:

a. Menghasilkan pangan dengan kualitas gizi yang tinggi dan dalam jumlah yang mencukupi.

b. Menerapkan sistem alami dan tanpa mendominasi alam.

c. Mengaktifkan dan meningkatkan daur biologis di dalam sistem pertanian, melibatkan mikroorganisme, tumbuh-tumbuhan dan hewan.

d. Meningkatkan dan memelihara kesuburan tanah.

e. Menggunakan sumber-sumber yang dapat diperbaharui dalam sistem pertanian yang terorganisir secara lokal.

f. Mengembangkan suatu sistem tertutup dengan memperhatikan elemen-elemen organic dan bahan nutrisi.

g. Memperlakukan ternak secara alami.

h. Mengurangi dan mencegah semua bentuk polusi yang mungkin dihasilkan dari pertanian.

i. Memelihara keragaman genetik di dalam dan di sekeliling sistem pertanian, termasuk perlindungan tanaman dan habitat air.

j. Memberikan pendapatan yang memadai dan memuaskan petani.

k. Mempertimbangkan pengaruh sosial dan ekologis yang lebih luas dari sistem pertanian.

Dilihat dari prinsip-prinsip pertanian organik dapat diketahui manfaat pertanian organik itu sendiri bagi kesehatan lingkungan alam maupun kesehatan tubuh manusia. Hal ini menunjukkan semakin pentingnya penerapan pertanian organik di Indonesia.

2.1.3 Perlakuan Pertanian Organik

Pertanian organik adalah suatu bentuk pertanian yang tidak menggunakan bahan kimia seperti pestisida dan pupuk sehingga dapat menjaga keberlanjutan sistem pertanian dalam waktu yang tidak terhingga. Namun demikian, pertanian organik bukan sekedar pertanian tanpa bahan kimia. Pertanian organik menggunakan teknik-teknik seperti rotasi tanaman, jarak tanam yang mencukupi antar tanaman, penggabungan bahan organik ke dalam tanah dan penggunaan pengendalian biologi untuk menaikkan pertumbuhan tanaman yang optimum dan meminimumkan masalah hama. Pemakaian pestisida organik dipertimbangkan sebagai upaya terakhir dan digunakan dengan hemat.

Keberhasilan pertanian organik tergantung pada program pengelolaan penggunaan input-input secara intensif dalam rangka menghasilkan produktivitas tanaman yang optimum. Pelaksanaan pengelolaan pertanian organik terdiri atas:

a. Penambahan bahan organik terdekomposisi.

b. Rotasi tanaman untuk meningkatkan kesuburan dan mengurangi serangan hama dan penyakit.

c. Memakai pupuk hijau dan tanaman penutup untuk memperbaiki kesuburan tanah, meningkatkan populasi organisme yang bermanfaat dan mengurangi erosi.

d. Pengurangan pengolahan tanah (minimum tillage) untuk memperbaiki struktur tanah dan mengurangi erosi.

e. Memakai tanaman penangkal (trap crops), jasad pengendali biologi dan teknik manipulasi habitat lainnya (seperti tumpang sari atau penggunaan pembatas) untuk empertinggi mekanisme pengendalian biologi alami pada pertanian.

f. Pembuatan zona penyangga dan pembatas untuk menandai area penghasil organik dan membantu melindungi area tersebut dari bahan-bahan terlarang. Zona penyanga ditanami dengan tanaman pemecah angin (wind breaker) atau tanaman yang bukan untuk dipanen.

Pertanian organik secara intensif pada tanaman hortikultura di negara-negara beriklim tropis agak kurang berkembang dibandingkan dengan negara-negara beriklim sedang (temperate) (Radovic and Valenzuela, 1999). Namun demikian dengan mempelajari perkembangan pertanian organik di daerah beriklim sedang tersebut dapat memperkaya pengetahuan yang ada pada daerah beriklim tropis untuk mengembangkan pertanian organik atau alami yang beradaptasi pada kondisi lingkungan lokal .

2.2 Peran Pertanian Organik dalam Pembangunan Pertanian Berkelanjutan

Pertanian berkelanjutan adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui dan sumberdaya tidak dapat diperbaharui untuk proses produksi pertanian dengan menekan dampak negatif terhadap lingkungan seminimal mungkin. Keberlanjutan yang dimaksud meliputi : penggunaan sumberdaya, kualitas dan kuantitas produksi, serta lingkungannya. Proses produksi pertanian yang berkelanjutan akan lebih mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah terhadap lingkungan (Kasumbogo Untung, 1997).

Pertanian berkelanjutan merupakan tahap akhir dari pertanian tradisional, dan pertanian moderen (Soerjono Soekanto, 2007). Pertanian berkelanjutan dapat diterapkan dengan menggunakan metode pertanian organik yang saat ini mulai populer di indonesia. Dengan menggunakan bahan organik untuk membudidayakan tanaman dapat mengurangi pemanfaatan bahan kimia yang dapat merusak keadaan tanah pertanian yang saat ini semakin tidak stabil. Dengan begitu pertanian di Indonesia dapat terus berlanjut, jika di Indonesia terus menggunakan bahan kima yang merusak tanah dan lingkungan sekitar, hal ini akan menghambat jalannya proses pertanian berkelanjutan. Untuk itu pertanian organik breperan penting dalam pembentukan pertanian berkelanjutan.

Salah satu hal terpenting pada pertanian berkelanjutan adalah peningkatan pengguanaan pupuk dengan bahan alami. Hal ini akan dapat membantu petani mengurangi pemakaian pupuk kimia dan biaya produksi pun dapat semakin berkurang karena menggunakan bahan alami yang ada di lingkungan. Teknologi pertanian berkelanjutan secara umum membutuhkan pelatihan yang lebih dalam tentang pertanian berkelanjutan. Penyuluhan dan pendidikan akan sangat berperan penting dalam peningkatan pemakaian bahan organik pada masyarakat petani. Hal ini karena adanya salah persepsi dari petani bahwa harga pupuk organik yang mahal menyebabkan petani enggan menggunakan pupuk organik padahal pada dasarnya, proses pembuatan pupuk organik tidaklah sulit. Justru kita daapat memanfaatkan bahan-bahan sisa hasil pertanian seniri untuk pembuatan pupukorganik.

Pengurangan pemakaian bahan kimia adalah suatu strategi untuk pertanian berkelanjutan di negara-negara industri, tetapi tidak untuk negara-negara berkembang dimana pemakaian bahan kimia untuk pertanian umumnya masih menjadi kebutuhan pokok. Bagi negara-negara berkemmbang, penggunaan bahan organik yang berlebihan juga dihindari karena penggunaan bahan organik yang tinggi dianggap dapat berpotensi menyebabkan pencemaran lingkungan sebagaimana halnya pupuk kimia. Akan tetapi hal itu tidaklah terlalu berpengaruh jika dibandingkan kerusakan yang diakibatakan oleh efek dari pupuk kimia. Hal ini dikarenakan kerusakan yang diakibatkan bahan kimi tidak hanya merusak kondisi tanah dan lingkungan tetapi juga merusak kesehatan manusia.

Pada pertanian berkelanjutan akan terjadi masalah-maslah yang lebih rumit untuk ditangani. Hal ini dikarenakan pada pertanian berkelanjutan perlu adanya perlakuan terhadap pertanian agar semakin maju dan berkembang. Karena hal tersebut diperlukan adanya pemecahan masalah yang lebih efesien, yaitu dengan semakin seringnya petani diberi penyuluhan serta pembelajaran terhadap pentingnya pertanian oraganik saat ini. Dengan semakin terampilnya petani menerapkan pertanian organik maka akan semakin mudah untuk mewujudkan pertanian berklanjutan

2.3 Perkembangan Pertanian Organik oleh Petani Indonesia

Penerapan pertanian organik memang tidak mudah dan cenderunng lebih rumit. Meskipun demikian keuntungan yang didapat bagi penggunanya sangat besar juga bagi lingkungan dan pertanian yang berkelanjutan. Cara budi daya tersebut memerlukan pengelolaan yang baik dan terkontrol. Akan sangat baik bila dilakukan dalam suatu sistem pertanian terpadu.

Penerapan pertanian organik di Indonesia tentu tidak mudah, mengingat sudah sekian lama lahan pertanian di Indonesia diolah dengan penggunaan bahan kimia yang tinggi. Pada awalnya tidak sedikit praktisi pertanian organik mengalami kegagalan, karena belum dapat mengontrol lingkungan terutama hama-penyakit. Sangat sedikit artikel atau hasil penelitian tentang pertanian organik di Indonesia, sehingga tidak dapat membantu permasalahan yang mereka hadapi (Zahrial Coto, 2005). Akan tetapi saat ini pertanian organik di Indonesia telah mulai berkembang secara luas, baik dari sisi budidaya, sarana produksi, jenis produk, pemasaran, pengetahuan konsumen dan lembaga masyarakat yang menaruh minat pada pertanian organik. Perkembangan ini memang tidak secara bersamaan dan berkesan berjalan sendiri-sendiri. Namun demikian bila lebih dicermati ada kesamaan tujuan yang ingin dicapai oleh para pelaku pertanian organik yaitu: menyediakan produk yang sehat, aman dan ramah lingkungan.

Peningkatan penerapan pertanian organik saat ini dapat dilihat dari makin banyaknya petani di indonesia telah mulai memiliki kesadaran untuk menggunakan bahan-bahan organik dalam mengolah pertanian di indonesia.. Namun dalam hal ini, petani organik di Indonesia sendiri masih belum total murni dengan bahan organik, tetapi masih sedikit menggunakan campuran bahan kimia. Karena menurut petani yang mulai menerapkan pertanian organik, penggunaan pupuk organik secara total tidak dapat diterima oleh kondisi tanah yang sudah terbiasa dengan bahan-bahan kimia. Jadi pencampuran ini bertujuan untuk menyeimbangkan kondisi tanah sehingga secara bertahap tanah dapat beradaptasi pada penggunaan pupuk organik.

Di Indonesia produksi pertanian organik yang banyak dilakukan petani rata-rata produksi buah dan sayuran (Dede Sulaeman, 2008). Untuk produksi beras sendiri masih sangat jarang di indonesia. Para petani cenderng lebih condong melakukan pertanian organik pada buah dan sayuran. sedangkan untuk padi sendiri, petani masih sedikit yang menerapkan sistem pertanian organik. Hal ini karena proses pertanian organik yang cenderung lama, sedangkan untuk target panen padi, petani di tuntut untuk panen 4 kali dalam setahun. Hal itu membuat petani enggan untuk bertani secara organik dalam hal padi.

Di daerah Malang sendiri pertanian organik telah diterapkan dengan maksimal di daerah Lawang. Petani Lawang dibimbing oleh dosen dari Universitas Brawijaya telah dapat mengolah pertanian organik secara maksimal. Di daerah Lawang, hasil dari pertanian organik tidak dijual dengan harga tinggi dikarenakan mereka telah dapat memaksimalkan pembuatan pupuk orgnik sendiri dengan memnfaatkan sisa-sisa alam. Hal ini membuktikan jika ada penyuluhan dan pendidikan maksimal pada para petani, pertanian organik tidaklah sulit diterpakan oleh petani sendiri.

2.4 Kendala dalam Pengembangan Pertanian Organik

Dalam pengembangan pertanian organik tentunya ada beberapa hambatan. Hambatan-hambatan dalam pertanian organik menurut pengamatan petani adalah (Marsh and Runsten, 1997):

a. Kurangnya pengetahuan tentang pertanian organik.

b. Tidak adanya kerja sama atau tidak adanya penyuluh lapangan.

c. Tidak tersedianya informasi tentang pertanian organik.

d. Adanya tekanan dari pertanian konvensional.

e. Kesulitan memperoleh kredit untuk pertanian organik

Metode pertanian organik belum dapat diterapkan pada wilayah yang tidak memiliki dasar pertanian yang terpadu dengan peternakan, karena komponen utama yang digunakan untuk pupuk organik adalah kotoran ternak.

Untuk meningkatkan produktivitas pertanian organik, telah dikembangkan berbagai varietas unggul melalui pemanfaatan bioteknologi, termasuk manipulasi genetik untuk menciptakan varietas yang resisten terhadap hama dan penyakit, serta meningkatkan kualitas produk. Di lain pihak, organisme hasil modifikasi genetik (Genetically Modified Organism, GMO) juga telah mengakibatkan dampak dalam keberlanjutan pertanian organik dalam bentuk (Organic Farming Research Foundation, 2003):

a. Adanya hasil pengujian kontaminasiyang positif dari GMO pada beberapa bagian benih organik, input atau produk-produk pertanian lainnya.

b. Pelaksanaan pertanian organik teleh minimbulkan beberapa biaya langsung atau kerusakan yang berhubungan dengan kehadiran GMO pada pertanian.

Jika ditinjau dari aspek budidayanya juga terdapat kendala dalam perngembangn pertanian organik (Tino Mutiarawati, 2006.)

· Luas pemilikan lahan petani yang rata-rata sempit, sehingga sulit menciptakan lingkungan yang sesuai bagi pertanian organik

· Penguasaan pengetahuan dan tehnik budidaya pertanian organik dalam lingkup “tidak terisolir” yang kurang dikuasai.

· Anggapan bahwa pertanian organik identik dengan pertanian primitif/tradisional/subsisten yang tidak menggunakan “teknologi”, sehingga hasilnya rendah.

· Perlu perubahan sikap yang mendasar untuk melakukan peralihan dari sistem pertanian konvensional menjadi sistem pertanian yang berwawasan lingkungan.

· Penghargaan / penilaian konsumen terhadap produk pertanian organik yang kurang, sehingga tidak menjadi daya tarik pada pengembangan produk ini.

Dari beberapa faktor kendala diatas faktor utama yang menyebabkan kurang dapat berkembangnya pertanian organik justru terletak pada para petani itu sendiri serta para konsumen yang kurang dapat mendukung pertanian organik. Dari pengalaman Bapak mulyono yang merupak petani sukses di Desa Karangmloko kecamatan Junrejo batu-Malang yang juga merupakan praktisi pertanian organik, diperoleh data kendala utama pada pertanian organik terletak pada petani itu sendiri. Hal ini disebabkan kurangnya rasa percaya petani terhadap pupuk organik. Para petani berfikir pupuk dengan bahan dari alam seadanya tidak dapat mengahasilkan produksi yang baik. Selain itu kurangnya minat konsumen juga memicu petani untuk kurang bersemangat dalam mengmbangkan pertanian organik.

2.5 Peluang Penerapan Pertanian Organik di Indonesia

Indonesia sebagai negara yang beriklim tropis, dengan modal SDA yang luar biasa dimana aneka sayuran, buah dan tanaman pangan hingga aneka bunga dapat dibudidayakan sepanjang tahun. Hal tersebut menjadikan Indonesia sebenarnya memiliki peluang dan potensi pertanian organik yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor yang bernilai ekonomis tinggi.

Sebagaimana diketahui bahwa salah satu persyaratan pertanian organik adalah ketersedian bahan organik dalam jumlah yang cukup untuk dimasukkan ke dalam tanah untuk proses daur ulang. Dengan cukupnya bahan-bahan ini akan dapat membantu suatu upaya penyelesaian yang cepat pada masalah kerusakan lingkungan sekaligus menerapkan pertanian berkelanjutan. Dengan penerapan pertanian organik ini pemakaian pupuk yang mahal akan dapat dikurangi sehingga mengurangi biaya produksi.

Sebenarnya Indonesia memiliki areal pertanian yang luas dengan tingkat kesuburan tanah yang relatif cukup baik, disamping itu banyak terdapat sisa-sisa pertanian yang baik untuk dimanfaatkan sebagai bahan organik melalui proses daur ulang di dalam tanah, sehingga dapat menghasilkan Nitrogen dalam jumlah besar. Dengan kondisi keadaan areal pertanian sedemikian rupa, seharusnya Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk berhasil dalam penerapan pertanian organik dan dapat melakukan sistem pertnian berkelanjutan.

Ditambah lagi Luas lahan yang tersedia untuk pertanian organik di Indonesia sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000). Jadi masih banyak lahan yang belum tersentuh pertanian yang dapat dimanfaatkan menjadi pertanian organik.

Beberapa jenis komoditas yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat. Terkait dengan itu, teknik budidaya harus mempunyai daya saing dan teknologi yang unggul. Usaha budidaya organik tidak bisa dikelola asal-asalan, tetapi harus secara profesional. Ini berarti pengelola usaha ini harus mengenal betul apa yang dikerjakannya, mampu membaca situasi dan kondisi serta inovatif dan kreatif. Berkaitan dengan pasar, tentunya usaha agribisnis harus dilakukan dengan perencanaan yang baik dan berlanjut, agar produk yang telah dikenal pasar dapat menguasai dan mengatur pedagang perantara bahkan konsumen dan bukan sebaliknya.

Di Indonesia sendiri, gaung pertanian organik sebenarnya sudah berkembang sekitar 10 tahun yang lalu, akan tetapi pemainnya dapat dihitung dengan jari (Trubus No. 363, 2000). Kemudian meningkat pesat sejak terjadi krisis moneter, dimana sebagian besar penunjang pertanian yang diperlukan petani melonjak harganya berkali-kali lipat. Petani mulai melirik alternatif lain dengan model pertanian organik. Melalui proses adaptasi, pertanian organik mulai digeluti dan mendapat respon yang cukup baik, dengan ditandai oleh bermunculnya kelompok petani organik di berbagai daerah. Di Jawa Tengah, sentra pertanian organik terletak di Klaten, Yogyakarta, Karanganyar, Magelang, dan Kulonprogo. Di Jawa Barat; Bogor, Bandung dan Kuningan. Di Jawa Timur; Malang, serta beberapa daerah di Bali (Trubus No. 363, 2000).

III. PENUTUP

3.1 Simpulan

1. Pertanian organik merupakan sistem pertanian dimana para petani tidak menggunakan pupuk anorganik dan pestisida kimia sehingga tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan.

2. Pertanian organik dalam pembangunan pertanian berkelanjutan dapat mengurangi pemanfaatan bahan kimia yang dapat merusak keadaan tanah pertanian yang saat ini semakin tidak stabil, dan dapat membantu petani mengurangi pemakaian pupuk kimia dan biaya produksi pun dapat semakin berkurang karena menggunakan bahan alami yang ada di lingkungan.

3. Pertanian organik di Indonesia sudah mulai mengalami peningkatan. Meskipun masih belum optimal, kini pertanian buah dan sayuran di Indonesia sudah menggunakan metode pertanian organik.

4. Dari berbagai kendala pengembangan pertanian organik, kendala utamanya yakni sedikitnya pengetahuan para petani akan keuntungan sistem pertanian organik, luas pemilikan lahan petani yang rata-rata sempit, sehingga sulit menciptakan lingkungan yang sesuai bagi pertanian organik, dan sulitnya memulihkan kondisi tanah yang telah rusak akibat pengaruh obat-obatan kimia.

5. Indonesia memiliki areal pertanian yang luas dengan tingkat kesuburan tanah yang relatif cukup baik, disamping itu banyak terdapat sisa-sisa pertanian yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai bahan organik melalui proses daur ulang di dalam tanah, sehingga dapat menghasilkan Nitrogen dalam jumlah besar. Dengan begitu seharusnya Indonesia mempunyai peluang yang besar untuk berhasil dalam penerapan pertanian organik dan dapat melakukan sistem pertanian berkelanjutan.

3.2 Saran

Untuk memajukan pertanian organik, diperlukan perencanaan dan penerapan yang baik secara bersamaan. Perencanaan dan penerapan juga dilakukan secara bersama antara pemerintah dan para petani. Pemerintah sebaiknya terus mebantu para petani agar dapat melaksnakan pertanian organik, pemerintah dapat terus memberikan penyuluhan, dan pendidikan pada petani agar petani lebih dapat mengerti manfaat pertanian organik. Begitupula petani hendaknya memiliki semangat yang tinggi untuk menerapkan pertanian organik. Petani sebaiknya tidak terfokus kepada hasil pertanian saj, tetapi juga harus dapat menjaga kesehatan dan kesuburan tanah.

DAFTAR PUSTAKA

Anonymuous, http://agribisnis.deptan.go.id/perkembangan pertanian organik.htm posted 2005

Anonymuous. http://id.wikipedia.org/wiki/pertanian organik.htm

Dini Dinarti. http://www.scribd.com/doc/6592742/pert5anian organik di indonesia.htm posted 9 january 2005

FAO Committee on Agriculture (COAG). 1999. Based on Organic agriculture.

Rome on 25-26 January 1999.

Soekanto,Soerdjono.2007.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Trubus No. 363. 2000. Pertanian Organik. Yayasan Tani Membangun. Jakarta

Winarno, http:// www.kompas.com/F.G. 4-11-2002/Pangan organik dan pengembangannya di Indonesia.htm Posted 23-8-2004.

1 komentar:

trimakasih atas infonya....
izin copas buat tugas ya min... sukses selalu....

Poskan Komentar